Pages

Saturday, 1 October 2011

Dari nol sampai Anak-anak yang akan menjadi Presiden Indonesia

Nahh... Ini adalah post pertama gue yang akan membahas tentang Indonesia. Yang isinya adalah perjalanan seorang teman saya, seorang petualang, namanya Ervin. Sebuah cerita yang saya yakin sangat inspiratif. Seorang yang berani move on, tidak menunggu suatu "janji" dari pemerintah dan bergerak dengan perasaan penuh sukarela. Penasaran? Ok langsung aja ke ceritanya.

Ervin, yang berasal dari kota Cirebon, Jawa Barat mendapat suatu ide gila untuk berpetualang ke Jawa Timur dengan bekal hanya duit seratus ribu rupiah!! Sesuatu yang sangat wow menurut gue.. Oh ya, tanpa kendaraan pribadi loo. Hehehe. Mulai dari tidur dengan menumpang di musholla sampai rumah-rumah camat sekitar. Oh ya, Ervin juga menambahkan kalau orang-orang disana ramah-ramah :) Perjalanannya itu penuh dengan keunikan. Salah satunya ni, Ervin gak punya kompas. Lohh jadi gimana tohh kalau dia tersesat? Ni.. Ervin menggunakan dadu, tapi bukan dadu biasa. Di dadu itu ada tulisan North, West, East, dan South. Lalu ada juga tanda bulat yang dihitamin dan tanda segitiga. Tanda bulat itu menandakan bahwa dia harus stay di tempat sampai ada keuntungan menghampiri, dan segitiga itu menandakan Ervin harus berdoa, meminta penerangan pada Yang di Atas hehehehe unik bukan?

Di Jatim, Ervin bengong tohh mau kemana, karena tujuan dari idenya itu hanya datang ke Jatim tetapi tidak tau harus kemananya gitu. Sampailah dia ke sebuah desa yang belum terjamah dunia luar, bukan karena penduduk disana menolak untuk masuknya budaya luar, bukan... Tetapi karena memang desa ini sangat terpencil. Ironisnya itu, masih banyak anak-anak disini yang belum bisa membaca menulis dan disini tidak ada sekolah. Bersyukurlah elo yang bisa sekolah dan kuliah sekarang :) Nahh disini nih klimaksnya, Ervin yang hatinya tergerak untuk melakukan perubahan akhirnya mengajari anak-anak tersebut. Selama dua tahun, Ervin menetap disana dan prosesnya itu dijalani dengan step by step. Pada awalnya, Ervin hanya sekadar mengajari anak-anak disana membaca dan menulis. Untuk masalah buku-buku, Ervin meminta tolong dari teman-temannya di Jakarta. Dan taukah anda, dalam waktu seminggu, buku-buku yang sampai disana ada enam keranjang karung besar, isi satu karung itu kurang lebih terdapat hampir seratus buku. Jujur, gw terkesan dengan orang-orang yang telah menyumbangkan buku-buku itu. Sedikit melenceng dari topik, gw mau tekankan sesuatu. Buku, walaupun itu adalah buku lama dan sudah tidak dibaca lagi, sadarkah anda bahwa buku-buku itu sangat berarti bagi orang-orang tidak mampu yang haus akan ilmu. Dan saya yakin anda pasti pernah mendengar kalimat ini "Ilmu dalam buku tidak akan pernah mati" hehehe :)

Lalu, ada buku tapi mana perpustakaannya? Nahhh disinilah kejutannya. Jadi gini, di desa itu terdapat tanah kosong dengan satu rumah yang tidak ditinggali lagi. Kondisi rumah itu memang tidak layak untuk digunakan dan Ervin, yang pada mulanya hanya mengusulkan agar atap rumah itu "dibetulkan", tidak harus dengan memasang atap maksudnya, karena mungkin Ervin mengira penduduk desa disini tidak memahami caranya, tercengang saat penduduk desa itu bergotong royong memasang atap, bahkan ada yang bisa memasang keramik. Jangan lupa, lokasi sedang berada di desa terpencil lo hehehe.. Dan jadilah sebuah perpustakaan, tempat untuk menampung ratusan buku-buku dan terbuka bagi siapa saja yang ingin membaca buku.

Tunggu dulu, usaha Ervin tidak hanya sampai disana. Ervin, dengan ide-ide kreatifnya membuat posting yang isinya seperti mengajak teman-teman dia di Jakarta maupun di Cirebon untuk secara sukarela membantu Ervin dalam misi memajukan desa tersebut. Oh ya, walaupun terpencil, tidak jauh dari desa ada sebuah warnet. Ada warnet tetapi jika orang-orang disana tidak bisa menggunakannya sama saja bukan? Disinilah Ervin mengakses internet untuk mengajak teman-temannya. Dan ternyata, postingan-postingan Ervin banyak mendapat respon positif dari banyak orang. Dan salah satunya sampai ke desa itu dan dia berasal dari Jakarta. Gue lupa nama orang itu. Hehehe. Jauh-jauh dari Jakarta lo :)

Setelah mengumpulkan dana dari teman-teman Ervin yang memang secara ikhlas menyumbang. Ervin pun berniat untuk menambah rumah yang nantinya akan dijadikan sekolah. Dan gue tambahkan, nilai uang-uang hasil sumbangan itu tidak sedikit. Rasa nasionalisme dan peduli orang-orang yang menyumbang itu gue acungi jempol, suatu nilai yang saya harap anda mau menanamkan rasa itu di hati anda.

Singkat cerita, jadilah sebuah sekolah di desa itu yang dinamakan Rumah Dunia. Sebuah sekolah hasil kerja keras selama dua tahun yang dijalankan Ervin. Sebagai tambahan, desa itu sekarang telah terangkat derajatnya dibandingkan dengan sebelum adanya sekolah tersebut atau lebih tepatnya sebelum Ervin ke desa itu. Hehehehe :)

Kesimpulannya, apakah Ervin telah melakukan perubahan untuk memajukan desa tersebut? Jelas. Apakah Indonesia terbantu dengan adanya usaha seperti yang telah dilakukan Ervin? Jelas. Ervin memilih untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi bangsa tanpa menunggu janji-janji dari pemerintah. Bagaimana dengan anda? Saya tidak menganjurkan anda untuk mengikuti jejak Ervin dalam mengubah Indonesia. Temukan passion-mu sendiri teman. Saya yakin jika ada niat, maka anda bisa. Hehehe. Gue tambahkan sedikit lagi, pendahulu kita merubah dan memerdekakan Indonesia dengan taruhan nyawa! Kita? Renungkanlah kata-kata saya ini dan bersyukurlah jika anda tumbuh di kalangan bercukupan karena masih banyak anak-anak di luar sana yang masih membutuhkan pertolongan kita. Beranilah untuk mengubah dan berkaryalah terus untuk masa depan bangsamu :)

Sebagai penutup, mungkin ada yang bertanya-tanya apa maksud judul post gue ini. Hehehe. Karena gue yakin tohh, dari berpuluh-puluh siswa yang ada di sekolah Rumah Dunia itu, saya yakin pada suatu hari nanti, salah satu dari mereka itu akan menjadi oran-orang penting di Indonesia, siapa tau salah satu dari mereka akan menjadi pemain Arsenal di masa yang akan datang. Hehehehe.

Sekian post saya ini, gue harap hati anda tergerak untuk melakukan perubahan untuk Indonesia-mu :)
Hiduplah Indonesia Raya

No comments:

Post a Comment